M.PatiL
Kondisi terkini persib bandung menjadi suatu hal menarik untuk dicermati dan diambil pelajarannya. Ada beberapa poin yang sangat menarik, pertama perubahan status yang sangat drastis pada status finansial yang asalnya menetek dari APBD dengan jumlah nominal yang termasuk paling banyak diantara penetek lainnya dengan sekejap berubah menjadi klub swasta bernama PT.PBB dengan berbagai aset usaha dan para investornya tapi tetap menjadi klub dengan stabilitas finansial kelas atas. Dengan kata lain dari pengguna uang rakyat bandung menjadi perusahaan swasta yang cari duit sendiri tapi tetap kaya raya.
Kedua, penggunaan stadion. Persib bandung asalnya adalah klub yang bermarkas di kota bandung dengan homebase stadion siliwangi, namun dengan adanya aturan BLI yang mengharuskan penggunaan stadion “berstandar tinggi”, maka persib berpindah ke kawasan kabupaten bandung atau tepatnya ke stadion si jalak harupat yang berpredikat terbaik di jawa barat yang notabene merupakan home base persikab kabupaten bandung.
Ketiga, memberikan kesempatan Jaya Hartono untuk memimpin di belakang layar permainan persib bandung walaupun dengan status tidak mendapatkan juara walau sudah diberi kesempatan memimpin sejak awal musim di periode sebelumnya, sebuah hal yang sangat jarang terjadi di kubu persib bandung.
Keempat, persib bandung mempertahankan beberapa pemain asing (non-asia) yang dianggap baik dan diharapkan mampu menunjukan performa lebih baik di kesempatan yang telah diberikan. Hebatnya, mereka (Gonzales dan Hilton) mampu menunjukan performa yang bisa dikatakan cukup memuaskan. Suatu yang jarang terjadi pula pada pemain asing terdahulu yang pernah membela persib lebih dari satu musim.
Memang masih ada beberpa faktor-faktor lainnya yang dapat menjadi poin-poin selanjutnya seperti tingginya antusisme dan kepedulian supporter pendukung persib bandung yang tersebar bukan hanya di Jawa Barat, tapi di banyak wilayah di Indonesia. Juga berkumpulnya banyak pemain tim nasional Indonesia di skuad persib menjadi hal tak kalah menarik. Factor-faktor inilah yang menjadikan status persib menjadi tim yang “Bangun Kembali” menjadi tim yang disegani dan masyarakat sepakbola tanah air kembali menyebut tim pangeran biru ini sebagai “TIM BESAR”, bahkan mulai menarik perhatian pihak luar negeri.
Ada pepatah mengatakan, semakin besar kekuatan maka semakin besar pula tanggung jawabnya. Atau, semakin tinggi kita, semakin kencang pula anginnya. Begitulah juga adanya dengan persib bandung, dengan semakin meroketnya popularitas maka semakin tinggi pula ekspektasi, semakin banyak juga masalah yang datang. Apa saja? Dan bagaimana? Mari kita lihat sebagian dari masalah dikubu persib bandung.
Pertama, masalah pemain!
- Cederanya tema mursadat membuat manajemen persib melirik lagi kipper asal Thailand sinthaweechai “kosin” yang pernah membela persib bandung di musim 2006. Masalahnya, kosin masih terikat kontrak dan harus membela klubnya di Thailand yang sedang memasuki fase akhir kompetisi dan baru bisa dating pada akhir bulan November. Karena sulitnya mencari kiper lain dengan kualitas teruji, maka persib setuju dengan persyaratan ini. Kondisi ini memaksa persib memainkan kiper cadangan dan meraih hasil minim poin pada beberapa laga awal LSI musim ini.
- Tidak adanya pengatur serangan setipe Cabanas membuat lini tengah persib kurang hidup, imbasnya performa striker persib Christian Gonzales menjadi mandek, hal ini menyebabkan timbulnya tekanan pada striker berjuluk el-loco tersebut dan hamper membuatnya hengkang pada pertengahan musim, namun kepercayaan pelatih dan tim serta datangnya gelandang kreatif Suchao yang menghidupkan permainan persib membuat Gonzales menemukan kembali performa “aslinya”. Dan masih bertahan hingga kini.
- Kehadiran gelandang Thailand Suchao Nutnum memang menghidupkan permainan persib. Namun bagai pisau bermata dua, gelandang serang ini pun menghadirkan ketergantungan yang cukup tinggi. Sehingga, pada saat Suchao terpaksa harus pergi melaksanakan wajib militer dan pada saat harus kembali memperkuat klub asalnya di Thailand permainan persib kembali labil.
- Ketergantungan terhadap penyerang Hilton moreira berdampak buruk, cedera parah yang menimpanya pada putaran kedua memberikan pengaruh negatif. Keadaan ini seolah-olah menambah tikaman pada diri maung bandung setelah kepergian Kosin dan Suchao yang semakin mengaburkan pola permainan persib bandung dan semakin menguburkan impian menjadi juara musim ini.
- Budi! Diproyeksikan sebagai pemain yang memberikan variasi serangan dan pelapis Hilton karena dianggap memiliki skill dan tipe permainan yang dianggap hamper serupa, pemain berjuluk “oray piton” ini malah sering duduk di bangku cadangan dan absen karena umroh dan cedera sehingga kontribusinya belum dapat menjawab harapan dan terhitung kurang maksimal.
- Masalah pemain ini dilengkapi dengan absennya beberapa pemain penting yang disebabkan oleh akumulasi kartu dan cedera-cedera minor. Dan mengakibatkan jarangnya persib menurunkan susunan tim terbaiknya.
Masalah pemain ini menunjukan bahwa kedalaman skuad persib tidak terjaga, rotasi pemain juga terkesan kadang terpaksa dilakukan mengingat adanya indikasi keterpaksaan akibat cedera dan absennya beberapa pemain inti. Sepertinya di setiap pertandingan persib bermain dengan tim B karena memainkan pemain cadangan atau tidak pada posisi idealnya. Satu, terhitung paket masalah yang jadi tekanan datang dari segi teknis.
Kedua, Pelatih tidak becus????
Banyaknya poin yang gagal diraih berakibat semakin kaburnya peluang juara persib. Hal ini yang menjadi senjata utama oleh banyak pihak untuk mengkambing hitamkan Jaya Hartono atas semua kegagalan yang dicapai oleh tim persib bandung, walaupun sebagian pihak lain menyalahkan kondisi teknis (kondisi para pemain) dan jadwal yang dianggap merugikan (beruntun 4 laga kandang – 6 laga tandang dianggap cukup menjenuhkan). Jaya tetap teguh dan percaya diri berbekal dukungan manajemen dan beberpa pihak lain untuk tetap menduduki kursi panas persib yang selalu di bebani juara setiap musimnya, walaupun tetap tidak dapat mendatangkan perubahan signifikan dengan segera. Puncaknya datang pasca kekalahan dari persijap jepara 2-1 yang diwarnai oleh adanya keributan kecil di luar stadion bumi kartini jepara, dimana jaya hartono menampar seorang oknum bobotoh yang dianggap mencela pelatih persib tersebut secara berlebihan. Insiden tersebut menghadirkan banyak reaksi yang pada akhirnya mengakibatkan pelatih kepala persib jaya hartono menyatakan mengundurkan diri dari kursi kepelatihan pada tanggal 15 April 2010. Banyak reaksi bermunculan, walaupun dengan konsistensi kandang yang terhitung sangat baik (belum pernah kalah, hanya satu kali seri) dan prestasi yang terhitung cukup bagus jika dibandingkan dalam sepuluh tahun terakhir (posisi 3 musim 2008/2009 dan posisi 4 sementara musim 2009/2010) tapi sepertinya keputusan jaya sudah final. Dan untuk sementara waktu Robby darwis diproyeksikan sebagai caretaker bersama dengan yusuf bachtiar. Artinya ada adaptasi lagi dari sisi teknis permainan, belum jika ada masalah mental pada pemain. Dua, terhitung paket masalah dari sisi teknis yang menjadi tekanan untuk tim persib bandung.
Ketiga, dimana kandang persib?
Seperti belum cukup dengan masalah teknis, datanglah masalah dari sisi non-teknis tanpa ada yang mengundang. Awalnya memang stadion si jalak harupat didaulat sebagai homebase sementara mengingat stadion keramat persib yaitu stadion siliwangi tidak sesuai standar yang dipakai pssi untuk level LSI atau hingga stadion gede bage selesai dibangun (entah kapan selesainya). Sempat direncanakan akan di renovasi pada awal 2010 untuk memperbaiki kerusakan akibat gempa tahun 2009, stadion sijalak harupat nyatanya masih tetap bisa dipakai persib buah hasil negosiasi manajemen PT. PBB hingga pertandingan kandang melawan persisam putra samarinda pada bulan maret 2010. Kali ini muncul kembali kabar yang menyebutkan bahwa stadion ini akan segera direnovasi pada bulan april 2010 sehingga persib terancam tidak bisa melakoni sisa lima partai kandangnya di stadion ini. Negosiasi memang masih dilaksanakan, stadion siliwangi pun kembali dikedepankan untuk “dipaksasakan” agar bisa menggelar partai kandang persib jika stadion sijalak harupat tidak diizinkan untuk dipergunakan. Jika siliwangi jadi dipakai, konsekuensinya manajemen akan menaikan harga tiket untuk mengantisipasi membludaknya bobotoh di stadion siliwangi yang kapasitasnya jauh lebih kecil dibanding sijalak harupat yang seringkali mencapai soldout. Artinya, penghasilan persib dari tiket akan berkurang dan hal ini secara langsung akan mengurangi jumlah teriakan dukungan bagi tim persib bandung yang sedang bermain. Masalah lain yang datang menekan keutuhan tim persib.
Keempat, konsorsium dan PT PBB
CEO PT PBB H. Umuh Muhtar memang menyatakan bahwa kelanjutan sponsor dan keutuhan konsorsium yang selama ini menyokong kehidupan tim persib bandung dipastikan tidak akan goyah untuk beberpa tahun ke depan. Selama sponsor dan konsorsium mengganggap persib memiliki memiliki banyak masyarakat yang memiliki “darah biru bobotoh persib” (setia mendukung persib), maka kondisi financial tidak akan terpengaruh pencapaian prestasi formal, tapi sebagai tim besar dengan dukungan dana melimpah selayaknya ada gelar yang didapat. Pernyataan H. umuh tersebut mungkin ada benarnya, tapi dengan adanya beberapa masalah diatas masihkah kita bisa yakin?
Munculnya berbagai masalah dan tekanan adalah resiko jika suatu tim atau organiasasi ingin menjadi dewasa dan tumbuh besar. Namun patut dipertanyakan, apakah semua pihak harus memberi tekanan dan menambah masalah yang harus diselesaikan untuk menjadikannya lebih dewasa dan berkembang besar?. Menanggapi pepatah diatas, apakah perlu meniupkan angin yang lebih kencang untuk membuat pohon tumbuh lebih tinggi besar? Atau menambah masalah dan tekanan untuk menggapai juara dan meraih kemenangan? mari, kita semua yang harus memberikan jawaban. Saya usulkan satu jawaban, yaitu terus memberikan dukungan. Jika ada kritik, sampaikanlah secara baik sehingga jadi kritik yang konstruktif (membangun) dan tidak destruktif (menjatuhkan/menghancurkan).
*)Penulis hanya seorang warga jawa barat fans sepakbola dan bukan anggota salah satu kelompok supporter. Hanya menyukai dan sayang sama persib dan ingin menyampaikan pendapatnya.
